Malaysia terus menguatkan hubungan ekonomi dengan Amerika Serikat melalui kesepakatan link slot pembelian peralatan senilai hingga US$150 miliar dalam lima tahun ke depan. Kesepakatan ini fokus pada sektor semikonduktor, dirgantara, dan pusat data, sekaligus mencakup pembelian gas alam cair oleh Petronas senilai US$3,4 miliar per tahun. Pemerintah AS juga menurunkan tarif impor Malaysia dari 25% menjadi 19% mulai Agustus 2025, mendukung kemudahan perdagangan antara kedua negara.
Selain itu, Malaysia tengah mempersiapkan kerangka insentif investasi baru yang akan diluncurkan pada kuartal III 2025, bertujuan menarik investasi bernilai tinggi yang dapat menciptakan lapangan kerja dan mengembangkan ekosistem lokal. Pemerintah juga mengalokasikan dana sekitar RM1,4 miliar untuk program penanaman ulang kelapa sawit selama lima tahun ke depan, dengan dukungan awal bagi petani kecil berupa matching grant.
Di sisi lain, skema taksi lintas perbatasan antara Singapura dan Johor Bahru masih belum mendapatkan minat yang tinggi dari penumpang, meski digunakan oleh para sopir. Hal ini menandakan perlunya penyesuaian agar skema ini lebih efektif dan amasyarakat.
Di tingkat internasional, perundingan gencatan senjata antara Thailand dan Kamboja terus berlanjut dengan pengawasan dari beberapa negara termasuk Malaysia, Amerika Serikat, dan China. Tim pengamat telah dikerahkan untuk memantau pelaksanaan gencatan senjata pasca-konflik perbatasan, meskipun persoalan tahanan masih menjadi tantangan dalam proses negosiasi.
Sementara itu, acara MyFintech Week 2025 menyoroti perkembangan pesat di sektor keuangan, terutama terkait digitalisasi, keberlanjutan, dan perubahan demografis yang menjadi pendorong utama transformasi industri keuangan global.
Berbagai perkembangan ini menunjukkan dinamika penting yang sedang berlangsung di Malaysia dan dunia, mencerminkan perubahan yang berpengaruh di berbagai bidang mulai dari ekonomi hingga hubungan internasional